About this audiobook
Afghanistan. Nama negeri itu sudah bersinonim dengan perang
tanpa henti, kemiskinan, maut, bom bunuh diri, kehancuran,
perempuan tanpa wajah, dan ratapan pilu. Nama yang sudah
begitu tidak asing, namun tetap menyimpan misteri yang
mencekam.
Pada setiap langkah di negeri ini, debu menyeruak ke rongga
mulut, kerongkongan, lubang hidung, kelopak mata. Bulir-bulir
debu yang hampa tanpa makna, tetapi menjadi saksi pertumpahan
darah bangsa-bangsa, selama ribuan tahun.
Aura petualangan berembus, dari gurun gersang, gunung salju,
padang hijau, lembah kelam, langit biru, danau ajaib, hingga ke
sungai yang menggelegak hebat. Semangat terpancar dari tatap
mata lelaki berjenggot lebat dalam balutan serban, derap kaki
kuda yang mengentak, gemercik teh, tawa riang para bocah,
impian para pengungsi, peninggalan peradaban, hingga
letupan bedil Kalashnikov.
Agustinus Wibowo menapaki berbagai penjuru negeri perang
ini sendirian, untuk menyibak misteri prosesi kehidupan di
tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah,
dan dilupakan. Menyibak cadar negeri cantik nan
memikat, Afghanistan.